PediaSure
- Main Image
-
- Title
- PediaSure Vanila
- Detail Page Path
Toilet training adalah salah satu tahap penting dalam tumbuh kembang anak. Perlu Ibu sadari, anak tidak langsung memiliki kemampuan buang air besar dan buang air kecil secara mandiri di toilet. Itulah mengapa mengajarkan cara dan etika buang air di toilet sejak dini, sangatlah penting untuk Si Kecil.
Berikut ini kita akan membahas kapan waktu yang tepat untuk memulai toilet training dan cara mengajarkan anak buang air di toilet secara mandiri. Yuk, simak penjelasan lengkapnya, Bu!
Toilet training menjadi bagian penting dalam mempersiapkan anak mandiri. Namun, perlu Ibu ketahui, setiap anak memiliki kesiapan berbeda dalam melakukan toilet training dan ini tidak selalu terkait dengan usia.
Sebagian besar anak sudah menunjukkan kesiapan untuk toilet training antara usia 18 hingga 24 bulan. Meski begitu, ada juga anak yang mungkin belum siap melakukan toilet training hingga usia tiga tahun. Ketimbang usia, keberhasilan anak untuk melakukan toilet training lebih bergantung kesiapan fisik, tumbuh kembang, dan perilakunya.
Ibu tidak perlu terburu-buru memulai toilet training pada Si Kecil. Tidak perlu pula membanding-bandingan proses toilet training Si Kecil dengan keberhasilan anak lain untuk buang air secara mandiri. Terlalu memaksa Si Kecil untuk melakukan toilet training saat ia belum siap secara fisik dan psikologis, justru dapat menimbulkan stres pada anak.
Berikut ini beberapa tanda anak siap untuk memulai toilet training:
Toilet training menjadi bagian penting dalam melatih kemandirian anak. Berikut ini beberapa manfaat toilet training pada anak:
Toilet training akan melatih kemampuan Si Kecil untuk mengontrol buang air besar dan buang air kecil. Setelah lulus toilet training dan memiliki kemampuan mengontrol buang air, anak pun tidak akan lagi mengompol di kasur atau celananya. Ia akan memahami sinyal tubuhnya saat ingin buang air besar atau buang air kecil.
Toilet training juga akan memberikan anak keterampilan memakai toilet secara mandiri. Jadi, saat merasakan sinyal tubuhnya, Si Kecil bisa langsung buang air besar atau buang air kecil di toilet.
Dapat buang air besar dan buang air kecil di toilet menjadi salah satu bentuk sikap anak mandiri.
Selain kemandirian buang air besar dan buang air kecil di toilet, proses toilet training juga dapat membantu melatih anak mengenali bagian-bagian tubuhnya.
Toilet training membutuhkan proses yang cukup panjang hingga anak mampu buang air kecil dan air besar secara mandiri. Proses ini dapat dimulai saat Si Kecil sudah menunjukkan kesiapan fisik dan mental.
Biasanya proses toilet training akan memakan waktu sekitar tiga hingga enam bulan, tetapi bisa juga lebih cepat atau lebih lambat tergantung pada kesiapan tiap anak. Jika Ibu memulai toilet training terlalu dini, proses ini akan memakan waktu lebih panjang.
Adapun proses toilet training yang efektif meliputi:
Sebelum memulai proses toilet training, ada baiknya Ibu lebih dulu menyusun perencanaan dan kesepakatan bersama sang ayah, pengasuh, nenek, atau orang-orang dewasa di sekitar Si Kecil. Sebab, pelaksanaan toilet training membutuhkan kesepakatan dan pemahaman seluruh pihak yang terlibat dalam pengasuhan anak. Kenali juga perilaku, temperamen, kesiapan anak sehingga Ibu bisa menentukan kapan waktu yang tepat untuk memulai toilet training.
Jika Si Kecil sudah menunjukkan kesiapan untuk toilet training, Ibu bisa mulai memperkenalkan segala hal tentang tata cara buang air besar atau buang air kecil kepada anak. Jelaskan secara detail kepada Si Kecil tentang maksud dan tujuan buang air, cara mengenali sinyal tubuh saat ingin buang air, cara melepaskan pakaian atau celana, hingga cara buang air di toilet. Jangan lupa juga untuk mengajarkan anak cara menyiram toilet, membersihkan diri setelah buang air, cara mencuci tangan, dan mengenakan kembali pakaian atau celananya.
Sesudah Si Kecil memahami cara buang air di toilet, tahap berikutnya adalah pelaksanaan toilet training. Ibu bisa mulai mengajak Si Kecil untuk buang air besar atau kecil di toilet. Ajarkan anak duduk di toilet saat mereka akan buang air. Jauh lebih baik untuk mengajarkan buang air dengan duduk di toilet, baik untuk anak perempuan ataupun laki-laki. Anak laki-laki perlu terlebih dahulu terbiasa buang air kecil dengan duduk di toilet daripada langsung diajarkan untuk buang air kecil secara berdiri. Dengan begitu, anak juga akan lebih mudah buang air besar dengan duduk di toilet.
Proses toilet training bisa berjalan melelahkan dan tak jarang membuat sebagian orangtua merasa stres. Oleh karena itu, toilet training sebenarnya tidak hanya membutuhkan kesiapan anak, tetapi juga orangtua.
Berikut ini beberapa tips supaya toilet training berjalan lebih lancar:
Pilihkan istilah atau kata-kata positif untuk mendeskripsikan cara buang air, bagian-bagian tubuh, ataupun urine dan tinja Si Kecil. Hindari menggunakan kata negatif seperti jorok atau menjijikan.
Ibu juga bisa menggunakan potty chair atau kursi toilet khusus untuk memudahkan Si Kecil belajar buang air di toilet. Pilihlah model potty chair yang nyaman dipakai oleh anak.
Mengenali tanda-tanda Si Kecil ingin buang air kecil dan buang air besar menjadi langkah penting untuk mendukung keberhasilan toilet training. Saat melihat sinyal buang air pada anak, Ibu bisa langsung membawa Si Kecil ke toilet.
Ayah dan Ibu adalah guru terbaik dalam mengajarkan toilet training kepada anak. Oleh karena itu, jadilah role model atau contoh kebiasaan buang air yang baik kepada anak. Sebab, anak-anak cenderung lebih mudah meniru kebiasaan-kebiasaan orangtuanya.
Baca Juga: Seru! Inilah 5 Aktivitas Anak untuk Bantu Tumbuhkan Perilaku Empati
Untuk mendukung tumbuh kembang Si Kecil yang mulai mandiri, Ibu bisa memberikan PediaSure yang memiliki nutrisi lengkap. PediaSure diperkaya campuran sinbiotik prebiotik FOS, probiotik L.acidophilus, 14 macam vitamin, dan 9 mineral yang dapat membantu menjaga daya tahan tubuh agar anak tak gampang sakit.
Nutrisi tambahan ini juga dilengkapi dengan omega 3, omega 6, AA, dan DHA yang penting untuk bantu meningkatkan kemampuan berpikir anak. Tak kalah penting, PediaSure juga mengandung Triple protein, arginine, vitamin K2, dan tinggi kalsium yang penting untuk bantu mengoptimalkan tumbuh kembang anak usia 1-10 tahun. Dengan asupan nutrisi lengkap dan proses toilet training yang berjalan lancar, Si Kecil akan tumbuh optimal dan menjadi anak mandiri.
SUMBER:
Potty training: How to get the job done - Mayo Clinic. Retrieved on August 1 2024 from https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/infant-and-toddler-health/in-depth/potty-training/art-20045230
How to potty train - NHS. Retrieved on August 1 2024 from https://www.nhs.uk/conditions/baby/babys-development/potty-training-and-bedwetting/how-to-potty-train/
Pengaruh Toilet training pada Kemandirian Anak - Kemenkes RI. Retrieved on August 1 2024 from https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/2529/pengaruh-toilet-training-pada-kemandirian-anak
Toilet Training (for Parents) - Nemours KidsHealth. Retrieved on August 1 2024 from https://kidshealth.org/en/parents/toilet-teaching.html
Toilet Training - IDAI. Retrieved on August 1 2024 from https://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/toilet-training
Toilet Training: 12 Tips to Keep the Process Positive - HealthyChildren.org. Retrieved on August 1 2024 from https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/toddler/toilet-training/Pages/Praise-and-Reward-Your-Childs-Success.aspx
Stay Connected